Selamat Datang Di Gubuk Yang Sederhana Ini, Mari Minum Kopi Bersama di negeri nyiur melambai, torang samua basodara
Tampilkan postingan dengan label Dharma Wacana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dharma Wacana. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Maret 2014

Bencana

Kejadian bencana alam bila dicermati tidak lepas dari hukum alam itu sendiri. Banjir bandang misalnya yang terjadi di Manado dan sekitarnya adalah bagian dari hukum alam (Rta). Ada persepsi mengatakan bahwa alam ini dalam kondisi kritis (tidak seimbang) dan kejadian banjir ini menuju keseimbangan alam. Manusia adalah sebagai faktor dominan penyebab ketidak seimbangan alam ini. Alih fungsi hutan, pemukiman di bantaran sungai, sampah sungai dan pemanasan global yang membuat kondisi anomali di dunia.

Bencana bukan hanya terjadi di alam ((Bhuana Agung)) saja, tapi bencana juga terjadi di dalam diri kita (Bhuana Alit), misal Perceraian, Perampokan, Mabuk mabukan , Ugal ugalan, Narkoba, MBA dll. Semua itu berawal dari Sad Ripu (enam musuh dalam diri manusia) dan Panca Timira ( Tujuh Kegelapan dalam diri manusia).

Jumat, 18 Oktober 2013

Tri Kaya Parisudha menuju Tri Hita Karana

Teringat ketika saat sekolah di tingkat SMP, kala itu jam pelajaran budaya dengan tema Tri Hita Karana. Guru menerangkan arti dan konsep Tri Hita Karana. Jam pelajaran pun usai dan materi Tri Hita Karana menguap begitu saja.. (maklum pelajaran yang kurang menggairahkan di mata saya kala itu). Sekali sekali terlintas topik Tri Hita Karana di majalah atau koran namun tiada minat untuk membaca. Sekian lama berlalu hingga saat pertemuan Krama Bali di Tempek Manado Selatan bulan September 2013,sebuah topik tentang Tri Kaya Parisudha menuju Tri Hita Karana yang dibawakan oleh Bli Wayan Mudharma telah membuka rasa yang begitu mendalam yang membuat cinta setengah mati akan ajaran suci ini.

Minggu, 01 September 2013

Pokok Pokok Keimanan Agama Hindu




Oleh: Bli Made Srija

Pokok pokok keimanan agama hindu dibagi menjadi lima bagian yang disebut dengan panca sradha,
  1. Percaya adanya Tuhan (Brahman/Hyang Widhi).
  2. Percaya adanya Atman
  3. Percaya adanya hukum Karma Phala
  4. Percaya adanya Punarbhawa / Reinkarnasi
  5. Percaya adanya Moksa
Percaya adanya Tuhan (Brahman/Hyang Widhi).
Kita percaya Hyang Widhi yang maha tahu, berada dimana mana, Kepada-Nya  menyerahkan diri dan mohon perlindungan dan petunjuk agar menemukan jalan terang dalam mengarungi hidup ini. Kita percaya bahwa Tuhan itu satu dan oleh orang bijak menyebut dengan banyak nama.  “Eko Narasanad Na Dityo Sti Kascit” yang artinya hanya satu Tuhan sama sekali tidak ada duanya. Kebenaran itu satu tidak ada kebenaran yang kedua “Bhineka Tunggal Ika tan hana Dharma mangrwa”  

Minggu, 21 Juli 2013

Ekalawya oh Ekalawya

Sebuah kisah di jaman dulu kala, tepatnya disebuah desa terpencil. Hiduplah seorang laki laki muda gagah berani dengan berpakaian dari kulit harimau dan bersenjatakan panah. Tegap berdiri dalam sorotan mata yang tajam menunjukkan jati diri yang tangguh sebagai seorang kesatria. Menoleh ibu jari tangan kanannya yang sudah terpotong, dia berdiri diatas batu cadas seorang diri, melamun jauh kemasa lalu mengingat lika liku ketika dirinya masih kecil.

Jalan berliku dari hutan ke pasraman guru drona, Penolakan dirinya oleh guru drona karena bukan dari bangsa kesatria, kembali ke hutan dalam kesedihan, membuat patung guru drona sebagai sugesti bawah sadarnya ketika berlatih perpanahan sendirian di hutan selama bertahun tahun, daksina ibu jari yang telah kupersembahkan kepada guru drona sebagai sujud bhaktinya.

Ekalawya oh Ekalawya …… pilih kasih, ketekunan dan ketidaksadaran..

Senin, 01 Juli 2013

Kasih Sayang

Krama Bali Manado yang terkasih, banyak cerita yang menggugah rasa yang kadangkala mampu melinangkan air mata. Bukan sinetron yang diseting dengan airmata buatan seolah olah menangis beneran. Tapi ini adalah cerita rakyat yang mengisahkan cinta, kasih sayang dan pengorbanan.

Masihkan ingat cerita bali jaya prana layon sari, cerita minahasa pinkan matindas, atau cerita india sawitri satyawan?.

Cerita cinta yang terjadi dahulu kala ini terkadang menjadikan inspirasi (pesan) bagi kita di saat sekarang dengan problema yang kompleks terutama di kehidupan rumah tangga. Menggali pesan disampaikan dalam ketiga cerita rakyat ini tentu akan mendapatkan persepsi yang beraneka. Namun satu benang merah yang dapat kita petik adalah Kasih Sayang. Mari Para Sameton Krama Bali Manado hidupkan kasih sayang sebagai suami, istri, orang tua, anak di keluarga.

Sabtu, 25 Mei 2013

Toleransi dan Pluralisme dalam Hindu



Toleransi dan Pluralisme dalam Hindu
Oleh: W. Sumertha

Om Suastiastu.
Segala puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Hyang Widhi wasa atas segala berkat dan kasih yang telah dilimpahkan kepada kita. Tanpa kemurahanNya mustahil semua ini dapat kita nikmati.
  
Baru-baru ini saya diutus oleh Parisada Sulut untuk mengikuti konferensi antar umat beragama antara Indonesia dan Jerman. Salah satu permasalahan yang dibahas adalah mengenai toleransi dan pluralism. Konferensi ini dilaksanakan karena kita mencermati akhir-akhir ini mulai timbul berbagai konflik yang diakibatkan oleh kurangnya toleransi.

Betara Shiva



Betara Shiva

 

Shiva sering dijuluki sebagai Dewa para yogi, Dewa yang dipuja untuk dapat mengendalikan diri. Shiva juga terkenal dengan shaktinya, Dewi Parvati. Dewa Siwa adalah pelebur, menyusul Brahma sebagai pencipta dan Wisnu sebagai pemelihara, merupakan satu dari tiga siklus kehidupan, mencipta, memelihara dan melebur. Shiva bertanggung jawab sebagai pengubah dalam bentuk kematian dan kehancuran. Dalam arti positif menghancurkan berarti menghancurkan ego, dan kepalsuan. Shiva juga menghancurkan kebiasaan jelek dan bentuk keterikatan.

Semua yang memiliki awal
pasti memiliki akhir. Pengertian hancur disini, tidak ada yang benar-benar hancur, tetapi ilusi individualitas yang kita miliki. Dengan demikian kekuatan kehancuran yang terkait dengan Dewa Shiva memiliki kekuatan memurnikan diri, baik pada tingkat diri pribadi ketika masalah menghampiri kita sehingga kita mampu melihat dan memaknai realitas kehidupan, dan juga menghadapi kehidupan pada tingkat yang lebih universal. Penghancuran membuka jalan bagi penciptaan baru dalam alam semesta. Sebagai Satyam, Shivam, Sundaram atau Kebenaran, Kebaikan dan Keindahan, Siwa merupakan kebaikan yang paling penting.

Betara Shiva memiliki banyak bentuk, diantaranya adalah dalam bentuk Panchavaktra dengan 5 kepala yang merupakan kombinasi dari semua energi/kekuatan Shiva: Aghora (bersemayam di dalem/tempat kremasi), Ishana (dipuja sebagai Shivalingam), Tat Purusha (Betara Shiva yang sedang bermeditasi), Varna Deva (Betara Shiva yang  abadi) dan Saddyojat atau Braddha Rudra (bentuk murka dari betara Shiva). Betara Shiva juga diberi gelar sebagai Nataraja atau Dewa seni dan tari. Tari Siwa Nataraja melambangkan kehancuran dan penciptaan alam semesta dan mengungkapkan siklus kelahiran, kematian, dan kelahiran kembali. Dalam gambarannya sebagai Nataraja (Raja Tari), beliau memberikan darsana atau wejangan kepada para bhaktanya. Dibawah kaki suciNya, Shiva meremukkan kebodohan manusia yang disebabkan oleh kepapaan/kebodohan. Bentuk lain dari Betara Shiva adalah sebagai Mahamrityunyaya, sebagai penakluk kematian. Mahamrityunjaya mantra adalah salah satu dari dua mantra utama Veda, di samping mantra Gayatri. Mantra ini dinyanyikan untuk memohon agar kita bisa mengatasi kematian dan penyakit. Bentuk utama lain dari Shiva adalah Ardhnarishwara, setengah Siwa, setengah Shakti.

Ada beberapa atribut yang terkait dengan Betara Shiva antara lain: senjata trisula yang mewakili tri guna (satwa, rajas, tamah), ular yang menunjukkan bahwa Ia berada di luar kekuasaan kematian dan racun dan juga sebagai pembangkit energi Kundalini, suara dua sisi genderang Shiva sebagai pemelihara irama detak jantung dan pencipta suara suci AUM. Kendaraan Shiva adalah banteng putih yang disebut Nandi sebagai lambang kebahagiaan. Shiva duduk di kulit macan atau memakai pakaian kulit macan, sebagai lambang pikiran.

Senin, 19 November 2012

dana punia

begitu mendengar berita nyama nyama bali di balinuraga lampung yang terkena musibah, ada niat nyama bali manado untuk medana punia dengan harapan meringankan beban atas kerusakan materiil akibat perang saudara di balinuraga. medana punia ternyata berawal dari filsafat TAT TWAM ASI , aku adalah kamu dan kamu adalah aku. Begitu kelian tempek bli Wayan Sumerta menerangkan dana punia itu terbagi atas tiga jenis. pertama memberi pendidikan budipekerti kepada orang orang disekitar yang paling penting dari lingkungan keluarga, kedua memberi pendidikan ilmu pengetahuan bagi orang orang sekitar n ketiga memberikan harta benda yang orang lain butuhkan. mogi mogi nyama balinuraga rahayu..